KABAR INSPIRASI.ID, JAKARTA – Rangkaian gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menyisakan kerusakan infrastruktur sekaligus melahirkan ketidakpastian bagi masyarakat yang terus dibayangi ancaman gempa susulan. Dalam situasi krisis tersebut, arus informasi memegang peranan krusial tidak hanya untuk menjaga tingkat kewaspadaan, tetapi juga sebagai kompas panduan bagi warga dalam mengambil tindakan penyelamatan yang tepat. Merespons kondisi ini, Pakar Komunikasi Kebencanaan yang juga berstatus sebagai Dosen Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina (UPER), Dr. Farah Mulyasari, menyoroti bahwa esensi komunikasi di tengah bencana jauh melampaui sekadar penyampaian informasi darurat secara cepat. Menurutnya, pemerintah memikul tantangan besar untuk menumbuhkan rasa perlindungan secara psikis di tengah situasi lingkungan yang secara objektif masih jauh dari kata aman, sehingga manajemen informasi mutlak diperlukan guna mengendalikan ketidakpastian tanpa menyulut kepanikan publik.
“Tantangan terbesar komunikasi risiko saat ini adalah bagaimana pemerintah mampu membangun rasa aman secara psikologis bagi masyarakat di tengah kondisi fisik lingkungan yang secara objektif memang belum aman. Pemerintah perlu mengelola ketidakpastian tanpa memicu kepanikan, sambil tetap menjaga kepercayaan publik,” kata Farah.
Terkait dengan manajemen informasi tersebut, kecepatan distribusi peringatan memang menjadi faktor penentu karena bersinggungan langsung dengan periode emas (golden time) evakuasi darurat. Kendati demikian, pasokan informasi yang sekadar cepat belum tentu berbanding lurus dengan tingkat keselamatan masyarakat apabila bahasa yang digunakan sulit dicerna dan minim orientasi tindakan nyata. Oleh karena itu, pesan kebencanaan mutlak menuntut penggunaan kalimat yang lugas serta memuat instruksi spesifik, seperti penjabaran kondisi terkini, rute evakuasi, lokasi titik kumpul, hingga rujukan sumber informasi resmi pemerintah. Kelengkapan dan kejelasan arahan ini sangat krusial untuk menutup celah kekosongan informasi yang berpotensi menyuburkan peredaran rumor serta hoaks di tengah kerentanan psikologis warga.
“Kecepatan adalah pembuka pintu keselamatan, tetapi instruksi yang jelas, terpercaya, dan spesifik yang benar-benar dapat menyelamatkan nyawa,” ujarnya.
Dalam rangka memperluas jangkauan dan efektivitas pesan, pendekatan komunikasi tidak boleh hanya terpaku pada kanal-kanal resmi pemerintah. Keterlibatan aktif tokoh masyarakat, aparat desa, pemuka agama, hingga relawan dan komunitas lokal memegang peranan vital sebagai agen literasi keselamatan. Strategi ini dirasa sangat relevan untuk diterapkan di NTT yang diwarnai oleh keragaman geografis, keterbatasan akses jaringan telekomunikasi di sejumlah wilayah, serta sangat kentalnya ikatan sosial komunal. Para tokoh lokal ini memikul peran sebagai cultural translator atau penerjemah budaya yang mengonversi diksi teknis dan data saintifik ke dalam konteks bahasa yang lebih membumi. Bahkan ketika koneksi digital terputus, mereka menjadi garda terdepan pengeras suara informasi melalui medium alternatif seperti radio lokal maupun komunikasi tatap muka berbasis komunitas.
“Pemerintah dan lembaga seperti BMKG bertugas menyediakan data yang akurat. Namun, tokoh agama, adat, dan relawan memiliki peran penting untuk mengubah informasi tersebut menjadi tindakan penyelamatan nyata di lapangan. Komunikasi kebencanaan baru dikatakan berhasil apabila mampu menggerakkan tindakan penyelamatan nyawa secara mandiri dan teratur,” jelas Farah.
Refleksi dari penanganan krisis pascagempa NTT ini semestinya menjadi fondasi berharga untuk merombak sistem komunikasi kebencanaan agar tidak melulu bertumpu pada kecanggihan teknologi, melainkan turut terintegrasi erat dengan struktur sosial masyarakat akar rumput. Nilai-nilai integrasi sosial dalam penyampaian informasi krisis ini turut diarusutamakan secara konsisten dalam ranah akademis di kampus UPER. Melalui kurikulum yang aplikatif, mahasiswa diarahkan untuk menguasai lanskap komunikasi krisis secara komprehensif agar kelak mampu berkontribusi merancang strategi komunikasi yang efektif di setiap fase kebencanaan.
“Komunikasi kebencanaan baru dikatakan berhasil apabila mampu menggerakkan tindakan penyelamatan nyawa secara mandiri dan teratur. Perspektif ini juga kami hadirkan dalam pembelajaran di Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina melalui mata kuliah Komunikasi Kebencanaan, agar mahasiswa memahami peran komunikasi mulai dari mitigasi, kesiapsiagaan, respons, hingga pemulihan bencana,” pungkas Farah. (*/ys)










