KABAR INSPIRASI, BANDUNG — Krisis iklim global bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan tantangan sosial-ekonomi yang menuntut kebijakan inklusif. Di tengah diskursus global tersebut, dua mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina (UPER), Zeffanya Tessalonika Manoppo dan Paskarina Alfalahsea, sukses mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional.
Duo srikandi kampusnya ini berhasil membawa pulang trofi Juara I kategori Chamber Policy Brief (rekomendasi kebijakan) pada Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (PSNMHII) ke-38 Tahun 2026 yang digelar di Bandung. Keberhasilan ini diraih setelah ide segar mereka menyisihkan persaingan ketat dari 31 perguruan tinggi di seluruh Nusantara.
Lewat karya tulis ilmiah taktis bertajuk “Mendayung Bersama di Lautan yang Sama: Kerja Sama Selatan-Selatan Indonesia–Pasifik dalam Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim Berperspektif Gender”, mereka menginisiasi pembentukan Indonesia-Pacific Climate and Gender Partnership (IPCGP). Sebuah tawaran model kerja sama baru yang menempatkan perempuan di kursi kemudi adaptasi iklim.
Zeffanya menilai, selama ini perempuan sering kali hanya dipandang sebagai kelompok rentan yang terdampak paling parah tanpa diberi ruang untuk bertindak. Padahal, kedekatan emosional dan sosial perempuan dengan komunitas pesisir adalah modal utama untuk merancang solusi yang efektif.
“Perempuan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lahir dari kedekatan mereka dengan komunitas. Perspektif tersebut perlu hadir sejak proses perencanaan hingga pengambilan keputusan agar kebijakan iklim menjadi lebih inklusif dan efektif,” ujar Zeffanya saat memaparkan latar belakang ide mereka.
Gagasan IPCGP tersebut tidak berhenti di atas kertas ilmiah. Zeffanya dan Paskarina melengkapinya dengan dua program aksi nyata di lapangan. Pertama, Gender-Climate Fellowship yang menyasar peningkatan kapasitas tata kelola wilayah pesisir. Kedua, Mangrove & Coastal Adaptation Pilot, yakni proyek restorasi 500 hektare hutan mangrove berbasis komunitas perempuan yang ditargetkan rampung dalam tiga tahun demi mendongkrak ekonomi lokal.
Paskarina menekankan, keterlibatan perempuan dalam program ini bukan sekadar sebagai pelengkap kuota atau peserta pasif, melainkan pengambil keputusan strategis di tingkat akar rumput.
“Kami menargetkan sedikitnya 40 persen keterlibatan perempuan dalam struktur pengambilan keputusan pada proyek restorasi pesisir. Harapannya, perempuan memiliki ruang yang lebih besar untuk berkontribusi dalam menentukan arah pembangunan yang tangguh terhadap krisis iklim,” kata Paskarina penuh optimisme.
Keberhasilan gagasan ini di kancah nasional langsung menuai apresiasi tinggi dari pihak rektorat. Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, M.Si., menegaskan bahwa kampus akan terus mendukung penuh lahirnya riset aplikatif yang menjadi jawaban atas dinamika global.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas Pertamina tidak hanya mampu mengidentifikasi persoalan global, tetapi juga menghadirkan solusi berbasis riset yang inovatif dan aplikatif. Universitas Pertamina akan terus mendorong lahirnya gagasan yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun internasional,” pungkas Prof. Djoko. (*/ys)











