KABAR INSPIRASI, JAKARTA – Sektor industri tekstil dan pakaian jadi di Indonesia mencatatkan tren positif dengan pertumbuhan mencapai 5,39 persen sepanjang periode 2024–2025. Peningkatan ini sejalan dengan melonjaknya nilai investasi di sektor tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki yang meroket hingga 31,1 persen, menyentuh angka Rp39,21 triliun pada 2024. Pesatnya laju industri ini otomatis menuntut adanya mekanisme quality control (QC) yang lebih mutakhir agar kualitas dan kesesuaian produk tetap konsisten. Sebagaimana dicatat oleh United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), pemanfaatan instrumen pengujian yang akurat terbukti ampuh mendongkrak produktivitas sekaligus menekan biaya operasional. Merespons kebutuhan krusial tersebut, dua mahasiswa Program Studi Teknik Logistik Universitas Pertamina (UPER), yakni Muhammad Fajar Ikhlas dan Daven Trihasanaki Dersa, sukses berinovasi merancang alat bantu pengukuran seragam. Inovasi ini dirancang khusus untuk mempercepat tahapan QC, di mana pemeriksa hanya perlu membentangkan pakaian pada alat ukur untuk mengidentifikasi tingkat kesesuaian dan deviasi ukuran dari standar baku.
“Ide ini muncul ketika kami terlibat dalam program PF SESAMA. Jumlah seragam yang harus diperiksa cukup banyak dengan ukuran dan spesifikasi yang beragam, sehingga proses pengukuran harus dilakukan berulang. Dari situ, kami mencoba membuat alat sederhana yang dapat membantu pengecekan menjadi lebih cepat dan tetap sesuai standar,” ujar Fajar.
Keterlibatan mahasiswa UPER dalam inisiatif PF SESAMA tersebut mencakup tanggung jawab penuh atas tahapan QC, pengemasan, hingga pengiriman 6.888 paket bantuan seragam dan perlengkapan sekolah. Paket bantuan tersebut didistribusikan kepada siswa jenjang SD dan SMP atau sederajat di berbagai pelosok nusantara, termasuk ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang menuntut keakuratan manajemen logistik tingkat tinggi mengingat beratnya aksesibilitas lapangan. Untuk memastikan kelancaran alur ini, alat ukur besutan Fajar dan Daven tidak hanya digunakan secara internal oleh tim UPER, tetapi juga dibagikan langsung kepada pihak vendor. Langkah strategis ini diterapkan agar seluruh vendor memiliki acuan pengukuran yang sama, sehingga mampu mendeteksi serta mencegah ketidaksesuaian ukuran sejak dini sebelum barang telanjur dikirimkan ke kampus.
“Kami mencoba membuat tools yang tidak hanya mempercepat pengukuran, tetapi juga memberikan acuan yang sama bagi setiap orang yang melakukan pengecekan. Dengan begitu, penentuan kesesuaian ukuran tidak hanya bergantung pada cara masing-masing pemeriksa,” kata Daven.
Keberhasilan kolaborasi karya inovatif ini tidak terlepas dari peran pendampingan jajaran dosen pembimbing Teknik Logistik UPER yang terdiri dari Adji Candra Kurniawan, Iwan Sukarno, dan Yelita Anggiane Iskandar, bersama laboran Nanda Ruswandi. Tim akademisi ini membenarkan bahwa keberadaan alat bantu fungsional tersebut sukses menyederhanakan kerumitan alur pemeriksaan ribuan lembar pakaian yang hadir dengan puluhan spesifikasi dan ukuran berbeda.
“Alat ini membantu mempercepat proses pengukuran. Seragam cukup dibentangkan untuk mengetahui kesesuaian ukuran dan melihat sejauh mana deviasinya dari standar. Kami juga memberikannya kepada vendor agar potensi kesalahan dapat diminimalkan sejak awal,” ujar Yelita.
Merespons capaian mahasiswanya, Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menegaskan bahwa pengalaman menuntaskan persoalan nyata di lapangan merupakan pilar esensial dalam silabus kampus. Pendekatan edukasi praktis di Program Studi Teknik Logistik UPER ini memang dirancang secara terintegrasi sebagai wadah adaptasi agar lulusan mampu merespons kebutuhan ekosistem industri yang terus berkembang pesat.
“Logistik saat ini tidak hanya berbicara tentang bagaimana barang berpindah dari satu titik ke titik lain, tetapi bagaimana rantai pasok dikelola secara efisien, adaptif, dan berkelanjutan. Karena itu, mahasiswa Teknik Logistik UPER kami bekali dengan pembelajaran yang dekat dengan persoalan nyata, mulai dari rantai pasok global, logistik energi berkelanjutan, hingga logistik maritim. Pengalaman seperti ini penting agar mereka mampu menggunakan keilmuannya untuk menghasilkan solusi yang relevan bagi industri dan masyarakat,” ujar Prof. Ichsan. (*/ys)










