KABAR INSPIRASI – Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional kini memasuki babak baru. Kabupaten Kolaka menjadi laboratorium terbuka kolaborasi multipihak antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan industri.
Senin (24/11), penanaman perdana demplot padi berkelanjutan di Desa Puubunga, Pubenua (Baula), dan Lemedai (Tanggetada) resmi dimulai, menandai babak transformasi pertanian berbasis inovasi.
Bagi Kolaka, proyek ini lebih dari sekadar menguji varietas unggul. Ia menjadi fondasi model pembangunan pangan daerah yang terintegrasi dengan teknologi dan industri. Demplot menguji enam varietas padi—PR25, PR107, Bujang Marantau, Trisakti, Menthik Wangi, hingga Menthik Susu, serta teknologi presisi seperti Perennial Rice dan sistem Salibu yang memungkinkan panen berulang tanpa penanaman dari awal.
Kemitraan antara Pemkab Kolaka dan PT Vale Indonesia Tbk, yang berada dalam ekosistem Mining Industry Indonesia (Mind ID), mencerminkan babak baru sinergi industri–pertanian. Jika selama ini kontribusi industri tambang lebih banyak pada infrastruktur dan CSR sosial, maka kali ini fokusnya adalah membangun kapasitas produktif masyarakat.
Direktur Utama PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, menegaskan bahwa keterlibatan perusahaan merupakan strategi jangka panjang untuk membangun daya saing sosial-ekonomi di sekitar wilayah operasi.
“Setiap benih yang ditanam hari ini adalah simbol komitmen kami menanam masa depan Kolaka. Ketahanan pangan adalah fondasi kemandirian daerah,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Kolaka memandang demplot ini sebagai titik awal program “Kolaka Mandiri Pangan” agenda yang menempatkan pertanian sebagai pilar utama ekonomi desa.
Hasil riset varietas unggul dan teknik budidaya presisi akan menjadi model replikasi ke desa lain, sehingga peningkatan produksi tidak lagi bergantung pada ekstensifikasi lahan, melainkan inovasi.
Deputi Bidang Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian, Widiastuti, menyampaikan bahwa program di Kolaka selaras dengan jalur kebijakan pangan Presiden.
“Benih unggul tersedia, tetapi distribusinya belum merata. Karena itu desa harus dikembangkan sesuai keunggulan lokal. Demplot seperti ini strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional,” tegasnya.
PT Vale sudah memulai transisi pemberdayaan pangan sejak 2021 melalui pengembangan pertanian organik Sistem Rice Intensification (SRI) di Blok Pomalaa. Sebanyak 55 petani telah terlibat, termasuk sembilan perempuan. Varietas organik Menthik Susu bahkan sudah masuk pasar lokal Kolaka.
Program baru ini mengejar skala lebih besar. Varietas yang terbukti paling adaptif dan produktif akan didiseminasikan lebih luas pada musim panen berikutnya sebagai sumber pangan lokal berkualitas.
Direktur sekaligus CSCAO PT Vale Indonesia, Budiawansyah, menegaskan bahwa inisiatif ini mencerminkan komitmen perusahaan pada prinsip keberlanjutan. “Kami ingin memastikan pertumbuhan ekonomi hadir bersamaan dengan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
Menuju Kabupaten Sentra Pangan Berkelanjutan
Dengan pendekatan ilmiah, penguatan kapasitas petani, dan dukungan pemerintah, demplot ini diproyeksikan memberi efek ganda yakni, meningkatkan produktivitas, menekan biaya budidaya, memperbaiki kualitas gizi masyarakat, sekaligus memperkuat struktur ekonomi desa.
Kolaka menargetkan diri sebagai pusat pangan berkelanjutan di Sulawesi Tenggara, berangkat dari sinergi yang jarang terjadi antara teknologi pertanian, riset varietas, hingga peran aktif industri.
Dari Kolaka, inisiatif ini menjadi gambaran bagaimana pertanian dan industri tidak harus berjalan berseberangan. Keduanya bisa tumbuh berdampingan dan menjadi fondasi kedaulatan pangan Indonesia di masa depan. (*/ys)











