KABAR INSPIRASI – Ikan lele masih menjadi primadona konsumsi masyarakat Indonesia. Mulai dari warung kaki lima hingga meja makan rumah tangga, komoditas air tawar ini memiliki pasar yang sangat besar. Sejalan dengan tingginya permintaan, produksi nasional lele pada fase pembesaran tercatat mencapai 1.157.755 ton sepanjang 2024. Angka tersebut menempatkan lele sebagai komoditas budidaya air tawar terbesar kedua di Indonesia setelah ikan nila, berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Namun, di balik tingginya produksi, sektor budidaya ikan lele masih menghadapi tantangan serius. Salah satunya adalah persoalan inefisiensi pemberian pakan ikan dan lemahnya pengelolaan kualitas air kolam. Secara global, food loss and waste sektor perikanan diperkirakan mencapai 14–15 persen dari total produksi. Kondisi ini dipicu oleh faktor teknis, manajemen budidaya yang belum optimal, serta keterbatasan pemantauan secara real time.

Menjawab tantangan tersebut, dua mahasiswa Teknik Elektro Universitas Pertamina (UPER), Adelard Zafri Ramadhan dan M. Syaifullah Yusuf Habibi, menghadirkan inovasi Smart Feeding System berbasis Internet of Things (IoT). Teknologi pakan cerdas ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi budidaya ikan sekaligus menekan potensi pemborosan pakan.
“Ketidaktepatan waktu dan jumlah pemberian pakan bisa berdampak langsung pada pertumbuhan ikan. Kelebihan pakan akan mencemari air dan berisiko menyebabkan ikan sakit bahkan mati,” ujar Adelard.
Teknologi IoT budidaya ikan yang mereka kembangkan mengintegrasikan sejumlah perangkat, mulai dari pengendali utama, sensor kualitas air, hingga aktuator pakan otomatis. Seluruh sistem terhubung dengan aplikasi Blynk, memungkinkan pembudidaya memantau kondisi kolam dan mengatur pemberian pakan ikan secara jarak jauh.
Melalui aplikasi tersebut, pengguna dapat memantau parameter kualitas air kolam, termasuk tingkat keasaman (pH). Dalam tahap pengujian, sistem mampu menjaga pH air pada kisaran 6,5–8,0, rentang ideal untuk pertumbuhan ikan lele. Selain itu, perintah pemberian pakan dapat dieksekusi secara langsung dan presisi.
“Proses pemberian pakan menjadi lebih teratur, responsif, dan mudah dikendalikan. Ini membantu pembudidaya menjaga kualitas air sekaligus meningkatkan efisiensi pakan,” tambah Adelard.
Inovasi Smart Feeding System ini dipamerkan dalam ajang Innovation and Design Exhibition of Electrical Engineering (IDEEE) 2026, sebuah pameran karya inovatif mahasiswa Teknik Elektro UPER. Pada tahun ini, IDEEE menampilkan lebih dari 20 karya mahasiswa dari mata kuliah Mikrokontroler dan Capstone Design.
Ketua Program Studi Teknik Elektro UPER, Muhammad Abdillah, S.T., M.T., Dr. Eng., menegaskan bahwa pameran IDEEE menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menghadirkan solusi teknologi yang aplikatif dan berkelanjutan.
“Mahasiswa ditantang untuk mengintegrasikan keilmuan teknik dengan kebutuhan masyarakat dan prinsip keberlanjutan. Karya yang dipamerkan sangat beragam, mulai dari sistem pemungutan sampah otomatis berbasis PLTS hingga smart portable electric cooler box untuk transplantasi organ,” jelasnya.
Apresiasi juga disampaikan Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU. Menurutnya, inovasi mahasiswa menjadi bukti komitmen kampus dalam mendorong pengembangan teknologi ramah lingkungan.
“Universitas Pertamina terus berkomitmen menjadi pusat inovasi energi dan teknologi yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam efisiensi energi, perlindungan lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tutup Prof. Wawan.











