KABAR INSPIRASI, JAKARTA – Universitas Pertamina atau UPER menegaskan komitmennya mencetak lulusan yang mampu menjawab tantangan transisi energi dan perubahan kebutuhan industri. Hal itu mengemuka dalam Sidang Terbuka Wisuda XIV Universitas Pertamina yang digelar di Sasana Kriya, Taman Mini Indonesia Indah atau TMII, Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.
Isu ketahanan energi nasional menjadi perhatian penting di tengah dinamika geopolitik global. Fluktuasi harga minyak mentah dunia dan ketidakpastian pasokan energi membuat Indonesia perlu terus memperkuat strategi diversifikasi energi, termasuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang masih mendominasi bauran energi nasional.
Dalam situasi tersebut, kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang memiliki kemampuan lintas disiplin menjadi semakin besar. Transisi energi tidak hanya membutuhkan penguasaan teknologi, tetapi juga pemahaman sosial, kebijakan publik, komunikasi, ekonomi, dan keberlanjutan.
Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero) sekaligus perwakilan Dewan Pembina Pertamina Foundation, Erry Sugiharto, menegaskan bahwa perubahan menuju energi bersih tidak bisa hanya ditopang oleh pendekatan teknis.
“Transformasi bauran energi menuju energi bersih dan rendah karbon tidak cukup jika hanya dijawab oleh kecanggihan teknologi. Diperlukan kombinasi keahlian (skill kombinasi) yang kuat antara lulusan teknik dan lulusan sosial,” tegas Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero) sekaligus perwakilan Dewan Pembina Pertamina Foundation, Erry Sugiharto, dalam Sidang Terbuka Wisuda XIV Universitas Pertamina di Sasana Kriya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin (25/5).
Menurut Erry, masa depan energi memerlukan kolaborasi banyak bidang ilmu secara bersamaan. Lulusan teknik dibutuhkan untuk memperkuat inovasi teknologi dekarbonisasi, sedangkan lulusan sosial memiliki peran penting dalam merancang kebijakan, membangun penerimaan publik, serta memastikan transisi energi berjalan inklusif.
“Lulusan teknik berfokus pada inovasi dekarbonisasi dan sistem energi masa depan, sementara lulusan sosial krusial dalam menyusun kebijakan adil, membangun narasi publik, serta memastikan transisi energi diterima masyarakat. Tanpa kolaborasi multidisiplin ini, transformasi energi tidak akan optimal,” ungkap Erry.
Kebutuhan talenta lintas disiplin tersebut semakin relevan dengan proyeksi dunia kerja masa depan. Laporan Future of Jobs dari World Economic Forum atau WEF menyebut peluang pekerjaan hijau dapat membuka jutaan lapangan kerja baru hingga 2030. Namun, peluang tersebut juga diikuti tantangan kesenjangan kompetensi, terutama pada penguasaan green skills di kalangan generasi muda.
Riset LinkedIn menunjukkan, baru sebagian kecil Gen Z secara global yang memiliki keahlian hijau sesuai kebutuhan industri. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa perguruan tinggi perlu bergerak lebih cepat dalam menyiapkan lulusan yang adaptif, kritis, kolaboratif, dan siap menghadapi perubahan industri.
Ketua Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi atau LLDikti Wilayah III, Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan, S.E., M.A., menilai perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Ia menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi, kerja sama, dan berpikir kritis di tengah perubahan teknologi dan industri.
“Kemampuan menyesuaikan diri, bekerja sama, serta berpikir kritis menjadi kunci utama menghadapi perkembangan teknologi dan dinamika industri. Para lulusan Universitas Pertamina sendiri telah dibekali pengalaman, teknologi, sertifikasi, riset, dan kolaborasi industri sebagai modal berharga untuk memasuki dunia profesional,” ujar Dr. Henri.
Ia juga mendorong lulusan Universitas Pertamina untuk menjadi bagian dari generasi pionir yang mendukung agenda keberlanjutan dan target net zero emission.
Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, M.Si., menyampaikan bahwa UPER terus menyiapkan talenta siap pakai melalui kurikulum yang terhubung dengan teknologi digital, transisi energi, dan dekarbonisasi. Penguatan tersebut dilakukan bersama ekosistem Pertamina Group agar lulusan memiliki kedekatan dengan kebutuhan industri.
Pada Wisuda XIV ini, Universitas Pertamina melepas 223 wisudawan. Dari jumlah tersebut, 46,64 persen lulus dengan predikat Sangat Memuaskan, sementara 33,18 persen berhasil meraih predikat Pujian atau Cumlaude.
Prof. Djoko menyebut, UPER mendorong lahirnya profil lulusan multitalenta atau The Renaissance Figure. Konsep tersebut diwujudkan melalui falsafah Sarjana Sujana, yakni lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki kompas moral dalam menerapkan ilmunya bagi masyarakat.
“Predikat ‘Sarjana’ menandai penguasaan sains dan teknologi, namun gelar akademik ini baru sebuah awal. Falsafah ‘Sujana’ melengkapinya dengan kekuatan kompas moral agar ilmu para lulusan yang memiliki kombinasi keahlian adaptif lintas disiplin ini mampu menjadi jembatan kebaikan yang tulus serta inklusif bagi masyarakat,” tutur Prof. Djoko.
Melalui wisuda ini, Universitas Pertamina menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang berorientasi pada kebutuhan masa depan industri energi. Dengan bekal teknologi, sertifikasi, riset, kolaborasi industri, serta nilai moral, lulusan UPER diharapkan mampu menjadi talenta yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap berkontribusi dalam membangun transisi energi yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.(*/ys)










