KABAR INSPIRASI – Krisis Iklim Nelayan, Universitas Pertamina, Ketahanan Ekonomi Pesisir. Momentum Hari Nelayan Nasional tahun ini menjadi pengingat penting bahwa sektor maritim Indonesia tengah meniti jalan terjal. Di tengah potensi laut yang melimpah, sekitar 30,2 juta warga pesisir kini harus berhadapan dengan anomali cuaca yang kian sulit ditebak. Fenomena ini bukan lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan perjuangan hidup mati yang terekam nyata dalam riset terbaru akademisi Universitas Pertamina (UPER) di Teluk Aru, Kalimantan Selatan.

Dipimpin oleh Ita Musfirowati Hanika dari Program Studi Komunikasi, tim peneliti lintas disiplin UPER membedah kerentanan di salah satu lumbung perikanan tangkap terbesar itu. Hasilnya cukup mengejutkan; pengetahuan lokal yang selama ini menjadi kompas para nelayan tradisional mulai kehilangan relevansinya akibat anomali musim.
“Hasil kajian kami menunjukkan bahwa perubahan iklim di Teluk Aru telah menjadi realitas yang memaksa nelayan berhenti melaut akibat cuaca ekstrem yang tak menentu dan hilangnya kepastian lokasi tangkapan akibat anomali migrasi ikan,” papar Ita Musfirowati Hanika saat menjelaskan temuan timnya.
Ketidakpastian ini merembet ke urusan dapur. Musim Barat yang biasanya hanya berlangsung tiga bulan, kini bisa “molor” hingga hampir setengah tahun. Akibatnya, nelayan tidak lagi memiliki pegangan pasti kapan harus menebar jaring.
“Musim Barat yang seharusnya tiga bulan kini bisa molor hingga lima bulan karena perputaran angin yang tak lagi bisa ditebak. Pergeseran pola musim ini membuat pengetahuan lokal yang selama ini dipegang nelayan turun-temurun menjadi tidak lagi relevan,” tambah Ita. Ia juga menyoroti pentingnya akses data yang lebih modern, “Kami menemukan bahwa meski nelayan sadar akan risiko, mereka tidak memiliki kanal informasi cuaca yang cukup presisi untuk mendukung keputusan mereka setiap hari.”
Getirnya kenyataan di laut dirasakan langsung oleh Lahudina (74), nelayan senior yang tetap gigih melaut meski tenaga tak lagi muda. Namun, laut kini sering kali tak ramah bagi kantongnya.
“Tahun ini cuaca tidak menentu, penghasilan nelayan sedang ‘sakit’. Pernah saya memancing semalaman cuma dapat satu ekor ikan, dijual cuma Rp35.000, padahal ongkos sekali jalan saja sudah Rp100.000. Kami tidak dapat untung, malah tombok,” ungkap Lahudina penuh keprihatinan. Kondisi ini bahkan memaksa beberapa rekan sejawatnya, seperti Pak Kaswin, menggantung jaring dan beralih menjadi petani cengkeh demi menyambung hidup.
Riset yang telah dipublikasikan secara internasional di IOP Conference Series dan DIJEMSS ini memberikan rekomendasi konkret bagi pemangku kebijakan. Salah satu poin krusial adalah penguatan bantuan teknologi tepat guna serta kemudahan akses pembiayaan untuk modifikasi perahu agar lebih aman menghadapi terjangan ombak yang kian besar.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU, menegaskan bahwa riset ini adalah bukti bakti kampus bagi kedaulatan maritim. Institusi pendidikan harus menjadi jembatan bagi nelayan agar tidak sendirian menghadapi tantangan global.
“Universitas Pertamina berkomitmen menghadirkan solusi nyata atas tantangan keberlanjutan masyarakat pesisir. Penelitian lintas disiplin ini adalah langkah konkret kami dalam menjembatani temuan akademik dengan kebutuhan mendesak nelayan di akar rumput demi menjaga kedaulatan maritim Indonesia,” tutup Prof. Wawan. (*/ys)










