KABAR INSPIRASI – Drone kini tidak lagi hanya dikenal sebagai perangkat fotografi udara atau hobi teknologi. Dalam beberapa tahun terakhir, drone telah berkembang menjadi bagian penting dari infrastruktur industri modern, mulai dari pemetaan, logistik, pengawasan kawasan, hingga sistem otomatis berbasis kecerdasan buatan.
Potensi pasar drone juga terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pasar drone konsumen global diperkirakan meningkat hampir tiga kali lipat, dari USD 5,89 miliar pada 2025 menjadi USD 15,65 miliar pada 2034 berdasarkan data Fortune Business Insights 2026. Di Indonesia, nilai pasar drone bahkan diproyeksikan mencapai USD 93 juta pada 2028.

Meski potensinya besar, teknologi drone masih menyimpan tantangan. Salah satunya terdapat pada sistem drone flock, yakni pengoperasian banyak drone secara otonom tanpa pilot. Sistem ini masih kerap menghadapi kendala ketika harus bermanuver cepat di lingkungan yang padat, sempit, dan penuh rintangan tidak terduga.
Tantangan tersebut mendorong mahasiswa Teknik Elektro Universitas Pertamina atau UPER yang tergabung dalam Tim RETRO untuk mengembangkan SkyFast. Inovasi ini merupakan purwarupa drone otonom yang dirancang agar mampu melakukan navigasi cepat, adaptif, dan mandiri pada kondisi menantang.
Karya tersebut berhasil mencatatkan prestasi internasional. SkyFast membawa Tim RETRO UPER meraih posisi 3rd Runner Up pada kategori High Speed Drone Flock dalam ajang Singapore Amazing Flying Machine Competition atau SAFMC 2026. Kompetisi tersebut berlangsung di Singapore EXPO pada 7–11 April 2026.
“SkyFast hadir sebagai solusi bagi industri yang memerlukan mobilitas tinggi di lingkungan padat dan tidak terstruktur. Drone ini dirancang dengan arsitektur khusus yang mampu melesat hingga kecepatan 5 m/s dan bergerak melewati celah sempit berukuran 1,5 × 1,5 meter secara mandiri tanpa bantuan pilot,” jelas Ketua Tim RETRO, Arkhen Bassam Ayubi.
Tim RETRO UPER beranggotakan Arkhen Bassam Ayubi, Nanda Agricioleovi, R. R. Dwigyantosa R., Inggil Giri Wiranata, Demas Zaky Musa, Muzaki Ahmad F., Rayzar Raja F., Quinadiene Nasywa A., dan Joseph Yang. Dalam pengembangan SkyFast, Muhammad Harish bertindak sebagai Project Manager. Tim ini juga mendapat bimbingan dari Ketua Program Studi sekaligus Dosen Teknik Elektro UPER, Dr. Eng. Muhammad Abdillah, S.T., M.T.
Salah satu keunggulan utama SkyFast terletak pada desain fisiknya. Drone ini mengusung konsep 100% Crash-Proof Geometry. Melalui pemanfaatan material PLA-Carbon serta kombinasi hibrida Carbon-Nylon pada pelindung baling-baling, SkyFast dirancang agar mampu menyerap energi benturan secara optimal.
“Selain ketangguhan fisik SkyFast memadukan sensor LiDAR dan algoritma A-STAR yang memungkinkannya memindai lingkungan 360 derajat untuk menemukan rute tercepat. Didukung oleh metode komputasi FAST-LIO dan komputer mini Raspberry Pi, drone ini ibarat memiliki otak cerdas yang mampu merespons rintangan secara seketika tanpa ada jeda waktu,” tambah Arkhen.
Dalam kompetisi tersebut, Tim RETRO UPER bersaing dengan sembilan finalis dari Indonesia dan Singapura. UPER berhasil finis di peringkat keempat, berada tepat di bawah National University of Singapore sebagai juara, Nanyang Technological University sebagai 1st Runner Up, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember sebagai 2nd Runner Up.
Capaian ini menjadi catatan penting bagi Universitas Pertamina. UPER menjadi satu-satunya universitas swasta Indonesia yang berhasil menembus podium pada kategori High Speed Drone Flock di ajang tersebut.
Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, S.Si., M.Si., menyampaikan apresiasi atas prestasi internasional tersebut. Menurutnya, keberhasilan mahasiswa UPER tidak terlepas dari kekuatan kurikulum Program Studi Teknik Elektro yang memiliki spesialisasi pada bidang Automation and Internet of Things.
“Keberhasilan para mahasiswa ini merupakan cerminan kesiapan kita dalam menjawab tantangan teknologi masa depan yang menuntut sistem cerdas. Prestasi ini sekaligus membuktikan bahwa mahasiswa UPER telah siap menciptakan inovasi teknologi otonom yang akan menjadi solusi nyata bagi kebutuhan industri maupun nasional,” pungkas Prof. Djoko.
Prestasi Tim RETRO UPER melalui SkyFast menjadi bukti bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing dalam pengembangan teknologi otonom di tingkat internasional. Inovasi ini juga membuka peluang lebih luas bagi pemanfaatan drone dalam industri masa depan, terutama pada sektor yang membutuhkan mobilitas cepat, presisi tinggi, dan sistem navigasi mandiri. (*/ys)











