KABAR INSPIRASI, JAKARTA — Industri Plastik Indonesia, Universitas Pertamina, Harga Minyak Mentah. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini mulai merambat ke meja makan dan rak belanja masyarakat Indonesia. Efek domino dari meroketnya harga minyak mentah dunia memicu lonjakan harga plastik yang merupakan produk turunan utama minyak bumi. Berdasarkan data Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), harga plastik di tingkat pedagang melesat tajam antara 40 hingga 60 persen per April 2026 ini.

Situasi pelik ini mendapat perhatian serius dari Pakar Petrokimia Universitas Pertamina (UPER), Wegik Dwi Prasetyo, S.T., M.T. Menurutnya, gangguan pada jalur distribusi minyak mentah berimbas langsung pada ketersediaan nafta, bahan baku krusial petrokimia. Kenaikan harga nafta secara otomatis mengerek biaya produksi olefin, komponen utama penyusun plastik.
“Kilang minyak di Indonesia saat ini masih berfokus pada pemenuhan bahan bakar transportasi dan kapasitas produksi untuk bahan baku plastik domestik masih terbatas. Karena itu, industri nasional masih sangat bergantung pada impor bahan baku petrokimia dari kawasan Timur Tengah yang memiliki kapasitas produksi nafta dan olefin jauh lebih masif,” ujar Wegik.
Ketergantungan ini menjadi titik lemah karena Indonesia masih memerlukan pasokan light crude oil dalam jumlah besar, terutama dari Arab Saudi yang memproduksi 9,51 juta barel per hari. Meski memiliki cadangan Sumatera Light Crude, produksi nafta domestik baru menyentuh angka 7,1 juta ton, sementara kebutuhan nasional mencapai 9,2 juta ton. Artinya, ada celah 2,1 juta ton yang harus ditambal melalui impor, membuat harga pasar sangat rentan terhadap gejolak global.
Wegik memperingatkan bahwa jika situasi ini berlarut, dampaknya akan meluas ke sektor Fast-Moving Consumer Goods (FMCG). “Bagi masyarakat umum, dampak kenaikan harga minyak bumi ini akan paling cepat terasa pada melambungnya harga kantong plastik, kemasan pangan, dan botol minuman. Namun, ancaman lebih lanjut dari ketidakpastian situasi geopolitik juga dapat mengganggu stabilitas harga di industri ritel serta sektor FMCG,” jelasnya.
Sebagai solusi jangka panjang, UPER mengambil peran strategis sebagai pelaksana nasional (national executing agency) untuk The Global Greenchem Innovation and Network Programme (GGINP). Program kolaborasi dengan Yale University dan Kementerian Perindustrian ini bertujuan mempercepat implementasi kimia hijau guna memutus rantai ketergantungan pada bahan baku fosil.
Sekretaris Universitas Pertamina, Raden Panji Adhitiyo Putera, menegaskan bahwa kesiapan SDM adalah kunci menghadapi tantangan industri ini. “Komitmen ini kami wujudkan melalui riset inovatif program GGINP dan penguatan kurikulum Teknik Kimia melalui peminatan Sistem Proses Kimia Berkelanjutan dan Rekayasa Energi. Langkah ini bertujuan mencetak talenta unggul yang mampu menghadirkan inovasi selaras dengan poin 9 dan 12 SDGs mengenai industri inovatif serta konsumsi-produksi yang bertanggung jawab,” pungkasnya. (*/ys)











