Oleh: Dedi Askary, S.H.
Parigi Moutong memiliki modal yang tidak sedikit untuk tumbuh sebagai pusat kreativitas dan pariwisata di Sulawesi Tengah. Namun sampai hari ini, ruang publik kita masih diperlakukan sebagai proyek fisik belaka, bukan sebagai ruang yang hidup, interaktif, dan menggerakkan ekonomi kreatif. Inilah titik lemah pembangunan kita.
Revitalisasi ruang publik tidak boleh lagi dipahami sebatas memperbaiki taman atau memasang lampu. Yang dibutuhkan Parimo adalah ekosistem kreatif: ruang yang memicu pertemuan, kolaborasi, seni, UMKM, teknologi, hingga inovasi warga. Tanpa itu, Parimo hanya akan terus mengulang pola pembangunan yang mahal namun tidak produktif.
Taman-taman kota harus ditransformasi menjadi taman kreatif dengan panggung terbuka, instalasi seni, sudut baca, ruang workshop, dan area interaksi warga. Pantai Parimo tidak boleh hanya menjadi latar foto, tetapi pusat kegiatan seni, kuliner lokal, olahraga pantai, dan ruang santai yang dikelola secara berkelanjutan. Pasar tradisional pun layak dijadikan hub kreatif UMKM, bukan hanya tempat transaksi.
Digitalisasi mesti hadir melalui aplikasi wisata, layar interaktif, hingga Wi-Fi publik. Yang lebih penting: masyarakat harus dilibatkan sebagai pemilik ruang publik, bukan sekadar penonton proyek.
Jika langkah ini tidak dimulai sekarang, Parimo akan kehilangan momentum menjadi daerah kreatif yang dinamis. Pembangunan fisik tidak lagi cukup; pembangunan ekosistem adalah jawabannya. (*)
Penulis adalah Business and Human Rights Consultant Policy Analyst











