Oleh: DEDI ASKARY, SH.
Sekedar Pengantar
Membangun sebuah daerah bukan sekadar meninggikan aspal atau mempercantik taman kota. Bagi Kabupaten Parigi Moutong, yang membentang di sepanjang garis pantai Teluk Tomini, pembangunan sejati haruslah berakar pada pembangunan manusia.
Dalam tradisi Islam, fondasi peradaban itu tidak dimulai dari pasar atau istana, melainkan dari Masjid. Namun, kita perlu bertanya: sudahkah masjid-masjid kita menjadi jantung yang berdenyut, atau sekadar bangunan megah yang sunyi di luar jam salat?
1. Masjid: Lebih dari Sekadar Karpet dan Sajadah
Selama ini, ada kesan bahwa masjid adalah tempat yang “kering”—sebuah rumah ritual yang pintunya dikunci rapat setelah salam terakhir diucapkan. Untuk membangun peradaban di Parigi Moutong, Pemda perlu menginisiasi masjid dengan konsep Masjid Jami’ yang Hidup.
Masjid harus kembali ke fungsinya di zaman Rasulullah ﷺ: sebagai pusat literasi, diskusi strategi, hingga tempat perlindungan sosial.
Pusat Literasi dan Kajian Mendalam
Bukan sekadar ceramah mingguan, masjid masa depan di Parigi Moutong harus memiliki:
* Perpustakaan Literasi Islam:
Menyediakan akses kitab klasik hingga buku-buku pemikiran kontemporer, ekonomi syariah, dan sains.
* Jadwal Kajian Tematik:
Ruang bagi para guru dan akademisi untuk membedah masalah umat secara ilmiah dan spiritual.
2. Merangkul Masa Depan:
Masjid Ramah Milenial & Gen Z
Kita tidak bisa mengharapkan anak muda datang ke masjid jika mereka merasa asing di dalamnya. Pemda Parigi Moutong memiliki peluang emas untuk menjadikan masjid sebagai hub kreatif bagi generasi digital.
* WiFi Gratis & Co-working Space:
Dengan menyediakan koneksi internet yang stabil di area serambi atau ruang terbuka masjid, kita menarik mahasiswa dan pekerja kreatif untuk beraktivitas di lingkungan yang suci. Mereka bisa bekerja sambil menunggu waktu salat.
* Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Masjid:
Tempat di mana komunitas bisa berkumpul, berdiskusi, atau sekadar duduk santai tanpa merasa tertekan oleh formalitas yang kaku.
3. Menghidupkan Ekonomi dan
Peradaban Lokal
Jika masjid di Parigi Moutong menjadi pusat aktivitas, maka ekonomi lokal di sekitarnya pun akan tumbuh. Masjid yang ramah teknologi dan literasi akan melahirkan pemuda yang berakhlak sekaligus kompeten secara intelektual.
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian…” (QS. At-Taubah: 18)
Memakmurkan masjid tidak berarti hanya mengecat dindingnya, tapi mengisi ruang-ruangnya dengan aktivitas yang memuliakan manusia.
Langkah Strategis yang Bisa Diambil Pemda Parigi Moutong
* Arsitektur Inklusif:
Mendesain masjid dengan banyak ruang terbuka dan aksesibilitas tinggi.
* Manajemen Profesional:
Menunjuk pengelola (takmir) yang tidak hanya paham fikih, tapi juga paham manajemen komunitas dan teknologi informasi.
* Integrasi Digital:
Menjadikan masjid sebagai titik hotspot positif bagi pembangunan literasi digital warga.
Dengan konsep ini, Parigi Moutong tidak hanya akan dikenal karena kekayaan alamnya, tapi sebagai daerah yang berhasil menyatukan kesalehan ritual dengan kemajuan peradaban modern.
Penulis adalah Business and Human Rights Consulting, Dewan Pendiri sekaligus Direktur LPS-HAM Sulteng pertama, anggota Dewan Pendiri LBH. Sulteng, Ketua Komnas HAM Sulteng 2006-Juli 2025. Pernah menjabat Deputy Direktur Walhi Sulteng dan Ketua Dewan Daerah Walhi Sulteng, Konsultan Riset Ketahanan Pangan di Lembah Baliem Wamena, Pegunungan Tengah Papua thn 2004, Tinggal di Mbaliara, Parigi Barat.











