• Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Cyber
Sunday, March 29, 2026
  • Login
  • Home
  • NASIONAL
  • SULTENG
  • OPINI
  • POLITIKA
  • LIFESTYLE
  • PENDIDIKAN
  • EKONOMI
  • HUKUM & KRIMINAL
No Result
View All Result
  • Home
  • NASIONAL
  • SULTENG
  • OPINI
  • POLITIKA
  • LIFESTYLE
  • PENDIDIKAN
  • EKONOMI
  • HUKUM & KRIMINAL
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Home
  • NASIONAL
  • SULTENG
  • OPINI
  • POLITIKA
  • LIFESTYLE
  • PENDIDIKAN
  • EKONOMI
  • HUKUM & KRIMINAL
Home OPINI

Bomba Saga: Menjahit Identitas yang Tercecer, Meletakkan Batu Bata Peradaban di Parigi Moutong

Yoga by Yoga
December 18, 2025
in OPINI
Reading Time: 3 mins read
0
Analisis Kritis Pesan Kapolda Sulteng dalam Go Polda Sulteng 2025: Antara Reformasi dan Realitas Kinerja

DEDI ASKARY, S.H.

Share on WhatsappShare on Facebook

Oleh: DEDI ASKARY, S.H.

ADVERTISEMENT

Sekedar Pengantar
Pada 10 April 2025, Kabupaten Parigi Moutong genap berusia 23 tahun.

Dalam siklus hidup manusia, usia 23 adalah fase dewasa muda—masa di mana identitas diri seharusnya sudah terbentuk kokoh, karakter sudah matang, dan arah tujuan sudah jelas. Namun, secara kritis harus diakui, selama lebih dari dua dekade, kabupaten yang membentang dari Maleali hingga Molosifat ini mengalami “Krisis Identitas Simbolik”.

Meski dikenal dengan kekayaan alam yang melimpah dan kemajemukan etnis yang luar biasa, Parigi Moutong seolah “gagap” dalam melahirkan satu karya peradaban yang mampu merangkum seluruh keragaman itu. Selama bertahun-tahun, kita melihat pembangunan fisik, namun sepi dari pembangunan jiwanya. Hingga akhirnya, kebuntuan peradaban itu dipecahkan melalui kelahiran Bomba Saga.

1. Kritik atas Kekosongan Peradaban:

23 Tahun Tanpa Wajah
Secara analitis, ketiadaan motif atau karya seni yang benar-benar merepresentasikan identitas kolektif selama 23 tahun adalah sebuah kelalaian kultural. Daerah ini kaya, tetapi kekayaannya berserak. Suku-suku hidup berdampingan, namun belum memiliki satu simbol pengikat yang disepakati bersama dalam bentuk karya seni rupa atau wastra (kain).

Karya peradaban tidak lahir dari ruang hampa. Ia membutuhkan kesadaran kolektif. Selama ini, upaya pencarian identitas mungkin ada, namun seringkali terjebak pada seremonial belaka, bersifat top-down (instruksi atasan), dan miskin riset. Akibatnya, produk budaya yang dihasilkan seringkali dangkal, tidak berakar, dan gagal menjadi kebanggaan komunal.

2. Antitesis Cara Kerja:
Riset, Partisipasi, dan Legitimasi Akademik

Di tengah kekosongan tersebut, inisiatif yang digerakkan oleh Hestiwati Nanga,SKM,M,Kes Ketua TP-PKK sekaligus Ketua Dekranasda Parigi Moutong, menawarkan sebuah antitesis (perlawanan) terhadap cara-cara kerja lama yang instan. Proses kelahiran Bomba Saga patut dibedah sebagai sebuah studi kasus manajemen kebudayaan yang ideal:

Baca Juga :  Revitalisasi Ruang Publik Parimo dan Mandeknya Ekosistem Kreatif

* Menolak Jalan Pintas:
Rentang waktu tiga bulan untuk sebuah perumusan motif adalah kemewahan dalam birokrasi yang biasanya serba terburu-buru. Waktu ini digunakan bukan untuk sekadar menggambar, tetapi untuk kontemplasi dan penggalian.

* Perkawinan Tradisi dan Sains:
Pelibatan tetua adat dari Maleali hingga Molosifat memberikan legitimasi sosiologis dan historis. Sementara itu, pelibatan akademisi Universitas Tadulako memberikan validasi ilmiah dan metodologis. Ini memastikan bahwa Bomba Saga bukan sekadar “kain cantik”, melainkan sebuah tesis budaya yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis dan filosofis.

* Partisipatif dan Inklusif:
Proses ini membuktikan bahwa Hesti tidak memposisikan diri sebagai penguasa tunggal estetika, melainkan sebagai dirigen yang memadukan suara-suara tetua adat dan pakar menjadi satu harmoni visual.

3. Hestiwati Nanga,SKM,M.Kes
Mengubah Gagasan Berserak Menjadi Tenun Pengikat

Dalam analisis kepemimpinan budaya, peran Hestiwati Nanga,SKM,M.Kes (istri Bupati Hi. Erwin Burase, S.Kom) melampaui tugas seremonial istri pejabat. Ia bertindak sebagai “Cultural Aggregator” (pengumpul dan penyatu budaya).

Gagasan-gagasan tentang kekayaan alam dan etnisitas Parigi Moutong yang awalnya berserak, parsial, dan terfragmentasi, berhasil ia konsolidasikan. Dibutuhkan energi besar dan visi yang tajam untuk bisa duduk bersama tetua adat yang mungkin memiliki ego sektoral masing-masing, lalu meyakinkan mereka untuk menyepakati satu motif bersama.

Bomba Saga, dengan demikian, bukan hanya selembar kain tenun ikat. Ia adalah manifestasi politik kebudayaan. Ia adalah pernyataan tegas bahwa di bawah kepemimpinan baru ini, identitas daerah tidak lagi dibiarkan liar, tetapi dirawat dan ditenun menjadi satu kesatuan yang utuh.

4. Bomba Saga:
Sebuah Replikasi Peradaban Kekinian

Apa yang dilakukan melalui penciptaan Bomba Saga adalah upaya mereplikasi semangat peradaban masa lalu di era kekinian.

Baca Juga :  Porkab ke-VI Kabupaten Parigi Moutong: Menjaring Atlet-Atlet Muda Potensial Cabang Olahraga Bola Kaki

Jika leluhur kita meninggalkan menhir atau prasasti sebagai penanda zaman, maka generasi Parigi Moutong hari ini—di bawah inisiasi Hesti—meninggalkan Bomba Saga sebagai prasastinya.

Motif ini diharapkan menjadi Geist (jiwa) zaman baru bagi Parigi Moutong. Ia bukan sekadar komoditas ekonomi untuk Dekranasda, tetapi bendera identitas.

Ketika orang melihat Bomba Saga, mereka tidak lagi melihat sekat-sekat etnis atau batas wilayah kecamatan, tetapi melihat satu entitas utuh bernama Parigi Moutong.

Penutup:
Awal dari Kedewasaan yang Sesungguhnya

Peluncuran Bomba Saga adalah tonggak sejarah. Namun, tantangan terbesarnya adalah pelembagaan.

Sebuah karya peradaban hanya akan abadi jika ia hidup di tengah masyarakatnya, bukan hanya di lemari pajangan pejabat.

Langkah Ketu Dekranasda Parigi Moutong dan timnya sudah tepat dan sangat fundamental. Proses yang fair, terbuka, dan berbasis riset adalah pondasi yang kuat. Di usia ke-23 tahun, Parigi Moutong akhirnya berhenti sekadar menjadi “penonton” kebudayaan dan mulai menjadi “pencipta” peradaban.

Bomba Saga adalah bukti bahwa dengan kemauan politik yang kuat dan metodologi yang benar, identitas yang terkoyak bisa ditenun kembali menjadi mahakarya yang membanggakan.

Penulis tinggal di Baliara, Parigi Barat

Tags: etnisParigi Moutong
SendShareTweet
Previous Post

Memuliakan Kemanusiaan di Tengah Reruntuhan Empati: Refleksi Hari HAM sedunia 10 Desember 2025

Next Post

Voting Tripartit Dewan Pengupahan Sulteng Pilih Alfa 0,6, Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi 2026

Yoga

Yoga

Next Post
Voting Tripartit Dewan Pengupahan Sulteng Pilih Alfa 0,6, Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi 2026

Voting Tripartit Dewan Pengupahan Sulteng Pilih Alfa 0,6, Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Stay Connected test

  • 23.9k Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest

5 Tips Mudah Merumuskan Tujuan Pembelajaran pada Kurikulum Merdeka

December 31, 2022

Guru Perlu Tahu! Begini Alternatif Cara Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

January 21, 2023

5 Tips Mudah Merumuskan Tujuan Pembelajaran pada Kurikulum Merdeka (lanjutan)

January 7, 2023

Mengelola Ruang Kelas Agar Tidak Menjadi “Penjara” Bagi Siswa

January 14, 2023
Siapkan Rp 80 Miliar, Tahun Ini Pemkab Poso Bangun Rumah Sakit Baru Di Maliwuko

Siapkan Rp 80 Miliar, Tahun Ini Pemkab Poso Bangun Rumah Sakit Baru Di Maliwuko

1
alla Toyota Hadirkan Talkshow Bertajuk Tips Mengemudi Mobil Hemat BBM

Kalla Toyota Hadirkan Talkshow Bertajuk Tips Mengemudi Mobil Hemat BBM

0
Perayaan Ulang Tahun ke-44 Kota Palu Bakal Dimeriahkan Grup Band Padi Reborn dan Penyanyi Andmesh

Perayaan Ulang Tahun ke-44 Kota Palu Bakal Dimeriahkan Grup Band Padi Reborn dan Penyanyi Andmesh

0
Densus Tembak Mati Askar yang Jadi DPO Poso

Densus Tembak Mati Askar yang Jadi DPO Poso

0
Analisis Kritis Pesan Kapolda Sulteng dalam Go Polda Sulteng 2025: Antara Reformasi dan Realitas Kinerja

Sulawesi Tengah dalam ancaman ekologi yang mengerikan

March 18, 2026
Wujudkan Mimpi Punya Rumah, BTN Palu Buka Akses KPR Subsidi Khusus Wartawan dan Pelaku UMKM

Wujudkan Mimpi Punya Rumah, BTN Palu Buka Akses KPR Subsidi Khusus Wartawan dan Pelaku UMKM

March 16, 2026
Warisan Megalit Harus Lestari, Langkah Tegas Penertiban Jadi Pintu Kesejahteraan

Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus Dikecam, Dinilai Ancaman Serius bagi Demokrasi

March 14, 2026
Lindungi Hak Perdata Anak, Kemenkum Sulteng dan BHP Makassar Perketat Pengawasan Perwalian

Lindungi Hak Perdata Anak, Kemenkum Sulteng dan BHP Makassar Perketat Pengawasan Perwalian

March 11, 2026

Recent News

Analisis Kritis Pesan Kapolda Sulteng dalam Go Polda Sulteng 2025: Antara Reformasi dan Realitas Kinerja

Sulawesi Tengah dalam ancaman ekologi yang mengerikan

March 18, 2026
Wujudkan Mimpi Punya Rumah, BTN Palu Buka Akses KPR Subsidi Khusus Wartawan dan Pelaku UMKM

Wujudkan Mimpi Punya Rumah, BTN Palu Buka Akses KPR Subsidi Khusus Wartawan dan Pelaku UMKM

March 16, 2026
Warisan Megalit Harus Lestari, Langkah Tegas Penertiban Jadi Pintu Kesejahteraan

Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus Dikecam, Dinilai Ancaman Serius bagi Demokrasi

March 14, 2026
Lindungi Hak Perdata Anak, Kemenkum Sulteng dan BHP Makassar Perketat Pengawasan Perwalian

Lindungi Hak Perdata Anak, Kemenkum Sulteng dan BHP Makassar Perketat Pengawasan Perwalian

March 11, 2026

Penerbit Portal kabarinspirasi.id

PT. KABAR INSPIRASI MEDIA

Alamat Redaksi : Jalan Diponegoro No. 102, Kota Palu, Sulawesi Tengah

Email : kabarinspirasimedia22@gmail.com

Browse by Category

  • EKONOMI
  • HIBURAN
  • HUKUM & KRIMINAL
  • Kategori Berita
  • Kesehatan
  • LIFESTYLE
  • NASIONAL
  • OLAHRAGA
  • OPINI
  • PENDIDIKAN
  • POLITIKA
  • SULTENG

Recent News

Analisis Kritis Pesan Kapolda Sulteng dalam Go Polda Sulteng 2025: Antara Reformasi dan Realitas Kinerja

Sulawesi Tengah dalam ancaman ekologi yang mengerikan

March 18, 2026
Wujudkan Mimpi Punya Rumah, BTN Palu Buka Akses KPR Subsidi Khusus Wartawan dan Pelaku UMKM

Wujudkan Mimpi Punya Rumah, BTN Palu Buka Akses KPR Subsidi Khusus Wartawan dan Pelaku UMKM

March 16, 2026
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Cyber

© 2022 Copyright Kabar Inspirasi

No Result
View All Result
  • KABAR INSPIRASI
  • Kategori Berita
    • NASIONAL
    • SULTENG
    • POLITIKA
    • LIFESTYLE
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • HUKUM & KRIMINAL
    • OPINI
    • HIBURAN
  • Tentang Kami
  • PEDOMAN MEDIA CYBER
  • Redaksi
  • Login

© 2022 Copyright Kabar Inspirasi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In