KABARINSPIRASI, JAKARTA — Tantangan penyakit kronis dan degeneratif, seperti kanker dan autoimun, terus meningkat dan menuntut terobosan riset yang lebih cepat serta akurat. Menjawab kebutuhan tersebut, Universitas Pertamina (UPER) melalui kolaborasi riset internasional mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat penemuan kandidat obat berbasis pemodelan komputasi.
Data Kementerian Kesehatan mencatat, kasus penyakit autoimun di Indonesia telah mencapai sekitar 2,5 juta orang pada 2023. Sementara itu, kanker masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi dengan lebih dari 400 ribu kasus baru setiap tahun. Kondisi ini mendorong urgensi pengembangan riset biomedis yang mampu mendukung diagnosis dini dan terapi presisi.
Salah satu fokus penting dalam riset kesehatan modern adalah identifikasi protein pengikat DNA (DNA-binding proteins/DBPs). Protein ini berperan vital dalam mengatur aktivitas gen, menjaga stabilitas materi genetik, serta memperbaiki kerusakan DNA. Gangguan pada fungsi protein tersebut berpotensi memicu berbagai penyakit serius, termasuk kanker dan gangguan autoimun.
Namun, proses identifikasi DBPs secara konvensional di laboratorium membutuhkan waktu panjang dan biaya besar, mengingat tubuh manusia memiliki jutaan jenis protein. Kendala ini kerap menjadi hambatan dalam pengembangan terapi yang tepat sasaran.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Dosen Ilmu Komputer Universitas Pertamina, Dr. Meredita Susanty, M.Sc., mengembangkan teknologi berbasis AI bernama BiCaps-DBP. Teknologi ini dirancang sebagai sistem penyaring untuk membantu peneliti mengidentifikasi kandidat protein pengikat DNA yang paling potensial untuk diuji lebih lanjut di laboratorium.
“BiCaps-DBP berfungsi sebagai screening tool yang menyempitkan daftar protein sehingga riset lanjutan dapat dilakukan secara lebih efisien,” jelas Dr. Meredita.
Melalui pendekatan komputasi, teknologi ini mampu menghemat waktu, biaya, dan sumber daya, sekaligus mempercepat pengembangan diagnosis dini, terapi presisi, serta inovasi produk biofarmasi. Dalam pengembangannya, Dr. Meredita berperan memastikan keandalan analisis komputasi, termasuk visualisasi data dan ketepatan argumentasi ilmiah.
Hasil riset menunjukkan BiCaps-DBP mampu meningkatkan akurasi prediksi sebesar 1,05 persen hingga 5,79 persen dibandingkan metode sebelumnya. Peningkatan ini menjadikan proses seleksi kandidat protein lebih presisi sebelum memasuki tahap uji laboratorium.
Riset kolaboratif tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi Computers in Biology and Medicine (Elsevier), sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin antara ilmu komputer, biologi, dan kedokteran.
“Meskipun tidak menggantikan peran laboratorium, model komputasi seperti BiCaps-DBP memiliki potensi besar dalam mempercepat pengembangan pengobatan di masa depan,” tambah Dr. Meredita.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU., menegaskan bahwa inovasi ini mencerminkan arah pembelajaran dan riset di UPER yang berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat.
“Pemanfaatan AI dalam riset kesehatan menunjukkan bagaimana ilmu komputer dapat berkontribusi langsung pada penyelesaian persoalan kanker dan autoimun, sekaligus mendukung pencapaian SDGs 3: Good Health and Well-being,” ujarnya.
Universitas Pertamina pun mengajak generasi muda untuk terlibat dalam pengembangan AI dan teknologi komputasi melalui Program Studi Ilmu Komputer, guna menghadirkan solusi berkelanjutan bagi kesehatan dan kemanusiaan. (*/ys)











