KABAR INSPIRASI, JAKARTA — Tantangan global berupa perubahan iklim ekstrem, ancaman krisis ketahanan pangan, hingga jurang kesenjangan sosial menuntut aksi nyata yang terintegrasi dari seluruh elemen bangsa. Di tengah capaian positif Indonesia yang sukses memenuhi 61,4 persen indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) per 2024, pemerintah bersama sektor akademisi resmi mengukuhkan jaringan 100 SDGs Center di berbagai perguruan tinggi sebagai mesin penggerak solusi berbasis riset.
Momentum bersejarah tersebut dikristalisasikan dalam perhelatan akbar SDGs Center Conference (SCC) 2026. Konferensi tingkat nasional yang mengusung tema “Penguatan Peran SDGs Center: Mendorong Aksi Lokal untuk Capaian SDGs Nasional dan Kemitraan Global” ini diselenggarakan secara kolaboratif oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) bersama Indonesia SDGs Center Network (ISCN). Perhelatan ini berlangsung dinamis pada 25–26 Juni 2026, dengan mengambil tempat di Kantor Bappenas dan Universitas Pertamina (UPER).
Plt. Kepala Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, Ph.D., menegaskan bahwa kampus memiliki posisi geopolitik dan akademis yang sangat strategis. Institusi pendidikan tinggi wajib bertindak sebagai konduktor yang menjembatani antara teori di ruang kelas dengan realitas kebutuhan pembangunan di lapangan.
“Melalui SDGs Center, perguruan tinggi menghubungkan hasil riset menjadi kebijakan dan aksi nyata. Peran tersebut diwujudkan dengan menghasilkan inovasi, menyediakan rekomendasi berbasis data bagi pemerintah, memberdayakan masyarakat, serta membangun kolaborasi lintas sektor untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan,” urai Pungkas di sela pembukaan konferensi.
Dimensi internasional turut memperkaya khazanah konferensi melalui sesi SDGs Lecture. Hadir sebagai pembicara utama, Chief Sustainability Officer National Dong Hwa University (NDHU) Taiwan, Prof. Chun-Hung Lee. Ia memaparkan resep global mengenai pentingnya perguruan tinggi dalam menyuntikkan kemampuan adaptif dan manajemen bencana berbasis komunitas demi membangun ketangguhan (resilience) warga lokal.
“Kapasitas adaptif adalah kunci utama dari resiliensi. Membangun kemampuan sistem, institusi, dan masyarakat bukan hanya untuk bertahan dari ancaman lingkungan seperti perubahan iklim, tetapi juga mampu beradaptasi secara proaktif dan memanfaatkan peluang di balik krisis,” jelas Prof. Lee.
Sinergi antarkampus ini dinilai oleh Presiden ISCN, Bayu Arie Fianto, sebagai fajar baru bagi ekosistem riset sirkular di Indonesia. Menurutnya, interkoneksi 100 SDGs Center akan meleburkan sekat ego sektoral tiap institusi guna saling melengkapi keunggulan akademis masing-masing daerah.
Komitmen pembumian nilai keberlanjutan ini diamini secara penuh oleh Pejabat Sementara (Pjs.) Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si. Dipilihnya UPER sebagai tuan rumah SCC 2026 merupakan rekognisi sekaligus bukti sahih dari keaktifan Sustainability Center UPER dalam mengawal isu-isu hijau.
“Universitas Pertamina memiliki keunikan karena berada di persimpangan antara dunia akademik dan industri energi. Melalui Sustainability Center, kami ingin menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dapat menjadi penggerak lahirnya solusi keberlanjutan yang tidak hanya berbasis ilmu pengetahuan, tetapi juga sangat relevan dengan kebutuhan riil sektor industri,” pungkas Prof. Djoko mantap. (*/ys)











