KABAR INSPIRASI.ID, JAKARTA – Setelah sempat menunjukkan tren penurunan aktivitas vulkanik pasca-erupsi intensif selama kurang lebih 25 jam, Gunung Anak Krakatau kembali memuntahkan material vulkaniknya pada Selasa (8/9) pagi. Menghadapi dinamika alam yang fluktuatif ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III (Siaga). Situasi ini menuntut kewaspadaan ekstra dari masyarakat, khususnya yang bermukim di wilayah pesisir dan sekitarnya, terhadap segala kemungkinan eskalasi dampak turunan. Dosen Teknik Geofisika yang juga Pakar Kebumian Universitas Pertamina (UPER), Iktri Madrinovella, M.Si., menekankan bahwa penurunan aktivitas letusan secara visual tidak boleh dimaknai sebagai kondisi bebas risiko. Berdasarkan pantauan holistik yang mencakup rekaman kegempaan dan data Real-time Seismic Amplitude Measurement (RSAM), ancaman dari letusan berskala kecil nyatanya dapat memicu rentetan bahaya mematikan seperti hujan abu lebat, lelehan lava panas, hingga skenario terburuk erupsi susulan dengan radius kerusakan yang lebih masif.
“Berdasarkan pemantauan PVMBG melalui pengamatan visual, data kegempaan, dan amplitudo RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement), aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada tingkat erupsi yang relatif ringan. Meski letusan kecil cenderung berdampak lebih terlokalisasi, kondisi tersebut bukan berarti bebas dari risiko. Masih terdapat potensi letusan susulan, hujan abu vulkanik, aliran lava, dan bahaya lainnya yang dampaknya dapat menjangkau wilayah lebih luas,” ungkap Iktri Madrinovella.
Secara teknis, Iktri mengklasifikasikan karakter vulkanik saat ini ke dalam tipe erupsi Strombolian, sebuah pola ledakan berkekuatan ringan yang kerap diikuti oleh muntahan magma encer dan pelepasan gas sulfur secara sporadis. Di balik ledakannya yang terkesan berskala kecil, erupsi jenis ini menyimpan ancaman tersembunyi berupa semburan partikel abu vulkanik berukuran mikroskopis yang sangat mudah terbawa angin. Tingginya paparan abu ini semakin diperparah oleh musim kemarau yang sedang melanda, di mana udara kering membuat partikel silika tersebut mampu mengambang jauh lebih lama di lapisan atmosfer. Didorong oleh embusan angin berkecepatan 10 hingga 20 knot, hamparan abu vulkanik dari Selat Sunda tersebut dilaporkan telah berekspansi melintasi arah timur laut hingga selatan, menyelimuti sebagian wilayah Jawa Barat bahkan hingga mencapai area aglomerasi Jabodetabek.
“Abu yang bergerak dengan kecepatan 10–20 knot atau sekitar 18–37 kilometer per jam tersebut menyebar ke arah timur laut hingga selatan dan menjangkau wilayah Jabodetabek serta Jawa Barat. Sebaran ini turut dipengaruhi oleh musim kemarau yang panjang. Dalam kondisi kering, abu dapat bertahan lebih lama di atmosfer dan terbawa angin hingga ke wilayah yang lebih jauh,” tambah Iktri.
Lebih dari sekadar hujan abu, letak geografis Gunung Anak Krakatau yang menyembul tepat di tengah perairan Selat Sunda menghadirkan ancaman klasik yang mematikan: Tsunami Vulkanik. Memori kelam runtuhnya sebagian dinding lereng gunung akibat ketidakstabilan material pada 22 Desember 2018 lalu masih menjadi pengingat nyata betapa cepatnya longsoran tubuh gunung memicu perpindahan volume air laut yang berujung pada gelombang tsunami destruktif. Guna mencegah terulangnya tragedi serupa, pengawasan ketat saat ini difokuskan pada instrumen deteksi dini seperti penggunaan tiltmeter dan GPS untuk memantau deformasi bentuk gunung, evaluasi kestabilan lereng, hingga pemasangan sensor tide gauge di sekitar perairan untuk mendeteksi anomali tinggi muka air laut sekecil apa pun secara real-time.
“Mengingat Gunung Anak Krakatau memiliki riwayat bencana penyerta, masyarakat perlu mencermati perkembangan aktivitasnya tanpa mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Informasi resmi dapat diperoleh melalui kanal PVMBG, BMKG, BNPB atau BPBD, serta media yang kredibel. Dengan mengandalkan sumber tepercaya, masyarakat dapat tetap tenang sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap berbagai potensi bahaya,” jelas Iktri.
Tingginya kompleksitas bencana hidrometeorologis dan geologi di Indonesia ini direspons secara proaktif oleh Universitas Pertamina melalui pengembangan kurikulum pendidikan yang berorientasi pada mitigasi. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, memaparkan bahwa kampus tak sekadar mencetak sarjana, tetapi secara khusus membekali mahasiswanya dengan instrumen keilmuan mutakhir guna membedah berbagai gejala kebumian. Mahasiswa UPER ditempa tidak hanya untuk mahir membaca data dan sinyal seismik secara presisi, tetapi juga dididik agar cakap bertindak sebagai agen literasi kebencanaan yang mampu mengomunikasikan hasil riset ilmiah dengan bahasa yang membumi, sehingga dapat diterima serta diaplikasikan oleh masyarakat luas demi meminimalisasi risiko korban jiwa.
“Melalui mata kuliah seperti Seismologi, Geodinamika, serta Pengolahan dan Analisis Sinyal Geofisika, mahasiswa mempelajari proses kebumian dan mengolah data untuk memahami berbagai gejala alam. Pembelajaran tersebut dilengkapi dengan mata kuliah Penglibatan Publik untuk Proyek Sains dan Teknologi agar mahasiswa mampu menyampaikan hasil kajian ilmiah secara tepat dan mudah dipahami masyarakat. Kompetensi ini diperlukan untuk mendukung literasi dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana,” ujar Prof. Ichsan. (*/ys)











