KABAR INSPIRASI – Universitas Pertamina atau UPER memperkuat peran pengabdian masyarakat melalui program ketahanan pangan keluarga di RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya, Depok. Program ini hadir sebagai langkah aplikatif untuk membantu warga menghadapi dinamika harga pangan dan kebutuhan pokok, terutama di kawasan padat penduduk dengan keterbatasan lahan.
Kegiatan tersebut juga menjadi respons terhadap pentingnya ketahanan keluarga di tengah situasi global yang turut memengaruhi harga energi, distribusi pangan, dan daya beli masyarakat. Kondisi ini dinilai perlu diantisipasi sejak tingkat rumah tangga, khususnya bagi kelompok rentan seperti keluarga pensiunan.
RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya menjadi salah satu wilayah yang mulai mengembangkan upaya pangan mandiri berbasis komunitas. Di kawasan ini, sejumlah warga menghadapi tantangan berkurangnya pendapatan setelah memasuki masa pensiun, sementara kebutuhan pangan keluarga tetap harus terpenuhi.
Melihat kondisi tersebut, Universitas Pertamina menginisiasi program pemberdayaan melalui Posyandu sebagai pusat edukasi ketahanan pangan keluarga. Posyandu dipilih karena memiliki kedekatan langsung dengan warga dan menjadi simpul sosial yang aktif di lingkungan masyarakat.
“Posyandu adalah simpul sosial yang sangat kuat karena berada di garda terdepan keluarga. Melalui wadah ini, kita mentransformasikan pesan Presiden mengenai ketahanan pangan menjadi aksi nyata. Kami membina warga agar mampu memproduksi pangan sendiri, sehingga dapur mereka tetap aman meskipun terjadi guncangan harga di pasar global,” ujar Evi Sofia; Ketua Tim PkM Universitas Pertamina.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam program tersebut adalah Budikdamber atau Budidaya Ikan dalam Ember. Sistem ini dikombinasikan dengan hidroponik, sehingga warga dapat memelihara ikan sekaligus menanam sayuran dalam satu media sederhana.
Model Budikdamber dinilai cocok diterapkan di permukiman padat karena tidak membutuhkan lahan luas. Warga cukup memanfaatkan area teras rumah atau halaman sempit untuk menghasilkan sumber protein dan sayuran bagi kebutuhan keluarga.
Selain praktis, sistem ini juga relatif efisien dari sisi biaya dan perawatan. Limbah dari ikan dapat menjadi nutrisi alami bagi tanaman, sementara air dapat dimanfaatkan melalui sistem resirkulasi. Dengan begitu, warga dapat menekan penggunaan air dan biaya tambahan, namun tetap memperoleh manfaat panen secara berkala.
Program yang telah berjalan sejak akhir 2025 tersebut mendapat sambutan positif dari warga RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya. Para peserta, termasuk kelompok pensiunan, mulai mengubah lahan terbatas di sekitar rumah menjadi unit produksi pangan mandiri.
“Di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian global, kemandirian pangan adalah pertahanan terbaik. Dengan modal yang sangat terjangkau, satu keluarga dapat menekan pengeluaran belanja pangan bulanan secara signifikan, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga meskipun harga energi melonjak,” tambah Evi.
Manfaat program ini juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Selain membantu memenuhi kebutuhan konsumsi harian, kegiatan Budikdamber turut menghadirkan aktivitas produktif bagi warga, terutama bagi kelompok pensiunan yang ingin tetap aktif dan berdaya.
Ketua RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya, Endang Sungkono, menyampaikan bahwa inovasi tersebut memberi dampak positif bagi warganya. Menurutnya, Budikdamber tidak hanya membantu aspek ekonomi keluarga, tetapi juga membangun semangat warga untuk memanfaatkan ruang yang tersedia secara produktif.
“Dengan hadirnya inovasi Budikdamber ini, warga kami, khususnya para pensiunan, menjadi lebih berdaya. Selain membantu ekonomi, kegiatan ini juga memberikan semangat baru bagi warga untuk tetap produktif meski di lahan terbatas,” beber Endang.
Pjs Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Menurutnya, isu besar seperti ketahanan energi dan pangan perlu diterjemahkan dalam bentuk program yang bisa langsung diterapkan di tingkat komunitas.
Program Budikdamber di Cipayung Jaya juga sejalan dengan dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs. Terutama poin ke-2 tentang Tanpa Kelaparan dan poin ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
“Universitas Pertamina berkomitmen menghadirkan inovasi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Masalah ketahanan energi dan pangan yang diserukan Presiden memerlukan respons akademis yang aplikatif. Melalui penguatan ekonomi keluarga berbasis komunitas seperti ini, kita sedang membangun fondasi ketahanan nasional yang lebih kokoh dari tingkat yang paling dasar,” tutup Prof. Djoko.
Melalui program tersebut, Universitas Pertamina menegaskan komitmennya untuk menghadirkan inovasi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Budikdamber menjadi contoh sederhana bahwa ketahanan pangan dapat dibangun dari rumah, dimulai dari komunitas, dan diperkuat melalui kolaborasi antara kampus dan warga. (*/ys)











