KABAR INSPIRASI, JAKARTA — Amukan tektonik berupa gempa ganda (seismic doublet) yang luluh lantak Venezuela pada akhir Juni lalu memantik alarm kewaspadaan global. Bagaimana tidak, dua lindu masif berkekuatan Magnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang dalam interval super-singkat—hanya selisih 39 detik—dilaporkan merenggut sedikitnya 1.943 korban jiwa dan memaksa belasan ribu warga mengungsi.
Kombinasi destruktif dalam hitungan detik ini memicu pertanyaan krusial: mampukah fenomena langka namun mematikan ini terjadi di Indonesia?
Pakar kebumian sekaligus dosen Teknik Geofisika Universitas Pertamina (UPER), Iktri Madrinovella, M.Si., menegaskan bahwa ancaman tersebut bukan sekadar isapan jempol. Karakteristik geologi Indonesia yang dikepung lempeng aktif memiliki kemiripan anatomi dengan zona patahan di Amerika Selatan.
“Pada kasus di Venezuela, gempa pertama diduga kuat memicu pergerakan patahan aktif di sekitarnya. Akibatnya, lahir gempa kedua dengan magnitudo yang jauh lebih besar hanya dalam tempo 39 detik. Akumulasi guncangan beruntun inilah yang melipatgandakan skala kerusakan infrastruktur,” beber Iktri saat memberikan penjelasan ilmiahnya.
Secara teknis, Iktri mengurai bahwa wilayah utara Venezuela berada pada zona pertemuan Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan. Kawasan ini didominasi oleh sesar geser (strike-slip)—tipe patahan mendatar yang terus menimbun energi kinetik raksasa hingga mencapai titik jenuhnya.
Kondisi tersebut menjadi cerminan nyata bagi bentang alam Nusantara. Sejarah mencatat Indonesia pernah didera fenomena serupa, seperti rangkaian gempa Mentawai-Bengkulu pada 2007 hingga rentetan gempa Lombok pada 2018. Pola pelepasan energinya serupa: satu guncangan besar mengubah distribusi tekanan di dalam kerak bumi, lalu memicu patahan atau zona subduksi tetangganya untuk ikut pecah.
“Potensi seismic doublet ini nyata mengintai jalur-jalur urat nadi patahan aktif kita, termasuk Sesar Sumatera dan Sesar Palu-Koro. Oleh sebab itu, kita tidak boleh lengah. Sistem mitigasi harus dirombak secara menyeluruh, mulai dari pemetaan kerentanan mikrozonasi hingga ketatnya audit konstruksi bangunan,” urai Iktri.
Langkah preventif berbasis sains telah diinisiasi Iktri melalui riset kolaboratif di kawasan pesisir Teluk Palu. Menggunakan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR), riset tersebut berhasil memetakan titik-titik dengan tingkat kerentanan seismik tinggi. Data presisi seperti inilah yang mendesak untuk diadopsi oleh pemerintah daerah sebagai kitab suci penyusunan tata ruang wilayah dan standar baku struktur tahan gempa.
Visi penguatan mitigasi ini diamini oleh Pejabat Sementara (Pjs.) Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si. Menurutnya, tragedi kemanusiaan di Venezuela harus menjadi momentum pembalik bagi pengambil kebijakan di tanah air untuk menyeimbangkan porsi anggaran fisik dengan investasi riset kebumian.
“Sebagai perguruan tinggi yang fokus pada keunggulan energi dan kebumian, Universitas Pertamina berkomitmen penuh memperkuat riset serta inovasi lintas disiplin. Pembelajaran dari bencana global harus dikonversi menjadi rekomendasi berbasis bukti (evidence-based) demi memperkokoh ketangguhan masyarakat Indonesia menghadapi risiko bencana di masa depan,” pungkas Prof. Djoko. (*/ys)











