KABAR INSPIRASI, JAKARTA — Upaya mengakselerasi transisi energi nasional kini mendapatkan dorongan ilmiah yang signifikan. Memanfaatkan limpahan komoditas karet alam nasional—di mana Indonesia menempati posisi produsen terbesar kedua di dunia dengan volume 2,6 juta ton per tahun—peneliti Universitas Pertamina (UPER) berhasil menciptakan inovasi pemodelan konversi biohidrokarbon yang jauh lebih efisien.
Gagasan revolusioner tersebut dilahirkan oleh pakar bioenergi sekaligus dosen Program Studi Teknik Kimia UPER, Dr. Ir. Laksmi Dewi Kasmiarno, bersama tim peneliti lintas institusi. Mereka berhasil merancang model volatile-state kinetics, sebuah sistem prediktif yang mampu memetakan hasil konversi karet alam menjadi biohidrokarbon tanpa perlu bergantung pada proses panjang trial and error di laboratorium.
Aplikasi pemodelan ini bekerja secara presisi dalam mensimulasikan metode pirolisis—yakni pemanasan karet alam pada suhu 300–600 derajat Celsius dalam kondisi minim oksigen selama 30 menit. Panas ekstrem tersebut memutus rantai panjang molekul karet menjadi senyawa sederhana yang menghasilkan minyak biohidrokarbon dan gas bertenaga.
Dr. Laksmi membeberkan bahwa tingkat akurasi model ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan pengujian fisik langsung, sehingga menghemat waktu dan biaya riset secara dramatis.
“Model ini memungkinkan kami memperkirakan jenis dan jumlah biohidrokarbon yang akan dihasilkan pada berbagai kondisi pirolisis sebelum melakukan pengujian laboratorium. Dengan akurasi yang sangat tinggi, pendekatan ini memangkas proses trial and error sehingga pengembangan teknologi biofuel menjadi jauh lebih cepat dan efisien,” terang Dr. Laksmi.
Dua nilai unggul dari hasil konversi ini adalah karakteristik fisiknya yang mendekati bahan bakar diesel komersial dengan nilai kalor mencapai 43,8–45,3 MJ/kg. Selain itu, pada kondisi optimum, sekitar 84,5 persen hasil pirolisis menghasilkan produk cair bernilai ekonomi tinggi seperti limonene, toluena, dan xilena yang sangat dibutuhkan industri kimia.
Keberhasilan riset ini diapresiasi tinggi oleh Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si. Menurutnya, inovasi berbasis sains ini menjadi bukti nyata kesiapan perguruan tinggi dalam mengawal ketahanan energi nasional dan pembangunan berkelanjutan.
“Universitas Pertamina berkomitmen mencetak lulusan dan riset unggulan yang menjawab tantangan industri. Melalui peminatan Teknik Sistem Proses Kimia Berkelanjutan serta Rekayasa Energi dan Material Maju di Prodi Teknik Kimia, kami terus mendorong lahirnya solusi bernilai tambah dari sumber daya lokal,” tegas Prof. Djoko.
(*/ys)











