KABAR INSPIRASI, JAKARTA — Ironi ketersediaan air bersih masih membayangi sekitar 41 juta penduduk Indonesia yang hidup di kawasan lahan gambut. Meski dikepung oleh sumber air yang melimpah ruah secara kuantitas, air tersebut sama sekali tidak bisa dikonsumsi secara langsung. Sifatnya yang sangat asam, berwarna cokelat pekat, serta kaya akan kandungan zat organik dan logam berat menjadikannya racun tersembunyi jika langsung digunakan tanpa proses filtrasi yang matang.
Melihat jeritan kebutuhan primer masyarakat tersebut, lima mahasiswa kreatif dari Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina (UPER) bergerak cepat. Tergabung dalam sebuah tim solid yang digawangi oleh Muhammad Karunia Vivaldi, Geovanny Tampubolon, Monica Septyani, Muhammad Raihan Rachman, dan Tiara Wulan Win Nedhari, mereka berhasil menelurkan mahakarya rancangan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gambut Skala Komunal melalui skema pembelajaran Capstone Design.
Inovasi ini sengaja dirancang sebagai solusi alternatif penyediaan air bersih yang tidak hanya ekonomis dan ramah lingkungan, tetapi juga mudah dioperasikan secara mandiri oleh masyarakat setempat. Sebagai basis pemodelan riil, Tim UPER memilih Desa Indrapura sebagai lokasi studi kasus karena memiliki karakteristik lahan gambut yang sangat representatif.
“Konsep utama dari perancangan ini adalah menyesuaikan setiap tahapan pengolahan dengan karakteristik air baku, sekaligus memproyeksikan pemenuhan kebutuhan air masyarakat secara presisi hingga 20 tahun ke depan,” ungkap Muhammad Karunia Vivaldi selaku Ketua Tim.
Sebelum cetak biru instalasi digambar, tim terlebih dahulu melakukan uji laboratorium terhadap sampel air baku di Desa Indrapura. Hasilnya cukup mencengangkan; tingkat keasaman (pH) air gambut di sana menyentuh angka ekstrem yaitu pH 3. Padahal, standar aman air minum yang ditetapkan oleh otoritas kesehatan berada di rentang pH 6,5 hingga 8,5. Kadar zat besi dan mangan di dalamnya pun tercatat melonjak tajam melebihi ambang batas baku mutu resmi.
Guna menjinakkan air asam tersebut, rantai instalasi pengolahan dirancang melalui serangkaian tahapan mekanis dan kimiawi yang sistematis. Proses dimulai dari netralisasi untuk mendongkrak tingkat keasaman, dilanjutkan dengan penyaringan berlapis guna mengendapkan zat pencemar berbahaya. Sebagai benteng pertahanan terakhir, tim mengintegrasikan teknologi Reverse Osmosis (RO) untuk memurnikan air secara total. Hasilnya, air gambut yang semula keruh kecokelatan bertransformasi menjadi air jernih higienis yang memenuhi standar baku mutu air bersih nasional.
Keberhasilan simulasi ini mendapat apresiasi penuh dari dosen pembimbing Program Studi Teknik Lingkungan UPER, Dr.Eng. Ari Rahman, S.T., M.Eng. Menurutnya, melalui pengerjaan Capstone Design pada Mata Kuliah Proyek Terintegrasi Berbasis Lingkungan (PTBL), para mahasiswa berhasil membuktikan diri mampu merancang solusi berbasis data komprehensif yang mengawinkan aspek teknis dengan kelayakan sosial-ekonomi masyarakat bawah.
Langkah konkret mahasiswa UPER ini selaras dengan peta jalan global Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-6 mengenai air bersih dan sanitasi layak. Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., menegaskan bahwa inovasi komunal ini mempertegas posisi UPER di panggung akademik nasional.
UPER sendiri telah dinobatkan sebagai perguruan tinggi swasta peringkat keempat terbaik di Indonesia untuk kategori SDG 6 dalam pemeringkatan internasional Times Higher Education (THE) Impact Rankings 2026. Capaian ini menjadi bahan bakar utama bagi kampus untuk terus menelurkan riset terapan yang membawa dampak masif bagi kemaslahatan publik. (*/ys)











